Langsung ke konten utama

Sebelum Sejauh Matahari Kita Pernah Sedekat Nadi

Sebelum sejauh matahari kita pernah sedekat nadi



Kalimat itu memang paling cocok di sematkan untuk menggambarkan hubungan ku saat ini. Marah, sedih, kecewa, sakit dan semua emosi negatif menghantui dari hari ke hari. Mungkin masih saling mencinta, tapi sudah terlalu lelah untuk berjalan. Berhenti dan diam. Apa itu yang dibutuhkan?

Ingn rasanya berteriak di depannya, mengatakan betapa jahat perbuatannya. Namun hati ini sudah lelah.. Siklusnya selalu berputar seperti itu. Salah, meminta maaf, mengulangi.

If they do not appreciate your presence, make them appreciate your absence.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini kabarku, bagaimana denganmu?

Hey, it's been a long time. How's life treat you? mine is... so boring. but, somehow i manage to keep alive. Aku ingat tulisan pertama yang ku buat di blog ini. Sudah cukup lama, dan postingannya pun sudah dihapus. Aku menulisnya saat masih di bangku SMA. menceritakan tentang teman, orang yang kusuka, keluarga dan kekecewaan pada diriku sendiri. Aku sudah bekerja saat ini. September nanti umurku sudah 24 tahun. Setiap hari harus berdesakan naik commuter line atau transjakarta untuk mencapai kantor. Kadang karena lelah berdiri sepanjang perjalanan rumah-kantor dan sebaliknya, saat malam kaki ku akan pegal-pegal. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa mengusap-ngusap bagian tumitnya dengan minyak kutus-kutus yang kubeli di salah seorang teman. kakakku sudah menikah di tahun ini. Beruntung pesta pernikahannya dilakukan sebelum wabah covid menyebar. Apakah kamu tahu mengenai wabah covid? Semoga saat kamu membaca tulisan ini wabahnya sudah berakhir. kemarin aku membantu salah satu tema...